Foto yang dia post itu awalnya menimbulkan sesak
bagi diriku. Yang dipikiranku saat itu, kenapa harus dia? Bukankah diriku
pernah bertanya padamu tentang dia, tapi kamu menyanggah seolah-olah tidak ada
apa-apa. Tuan, tahukah dirimu? Sebelum hari itu terjadi, aku pernah bermimpi
tentangmu. Mimpi itu seperti menginsyaratkan sesuatu. Mimpi itu juga pernahku
posting disalah satu media sosialku. Awalnya aku anggap sebatas bunga tidur,
tapi beberapa hari kemudian itu terbukti bukan sekedar bunga tidur. Setelah
kutau kebenarannya, hatiku seperti diikat dengan tali –sangat erat-. Sesak. Ingin
sekali berteriak, ingin sekali menangis, ingin sekali mengungkapkan semuanya.
Tapi apa boleh buat, apapun cara yang aku lakukan tetap tidak akan mengubah
kejadian hari itu, bukan?
Setelah chat terakhir itu, aku memutuskan untuk
tidak memulai chat denganmu lagi. Bukan aku ingin melupakan semuanya, tapi aku
takut hatiku semakin sakit. Dalam hatiku ingin sekali mendengarkan ceritamu
selama saat itu. Apa saja yang kamu lakukan dengannya disana? Pasti sangat
menyenangkan.
Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Tuan? Biar
kutebak, kamu sedang memikirkan dia, bukan? Dia yang selalu kamu nanti
kehadirannya. Dia yang selalu kamu harapkan. Dia yang selalu menjadi inspirasi
dari setiap status Facebook-mu. Aku turut berbahagia kalau kamu bahagia.
Walaupun aku sedikit kecewa padamu karena seolah kamu melupakan apa yang telah
terjadi sebelumnya. Hari itu seolah tidak pernah kau ingat. Hari itu seolah
tidak pernah terjadi. Kamu tidak pernah bertanya padaku tentang itu.
Sebenarnya aku iri dengan dia, yang fotonya kamu
posting di akun instagrammu. Bahkan fotomu hasil jepretanku saja tidak kamu
posting. Lagipula siapa aku? Tak ada pentingnya bagimu.
Aku rindu hari sebelum hari itu. Hari dimana kamu
yang selalu mengirimkan chat messengermu sekedar mengucapkan sedang apa diriku.
Kenapa dengan tiba-tiba kamu menghilang. Ahh tapi sudah biasa. Kamu memang
selalu begitu.
Tahukah kamu, sampai hari ini bahkan aku masih
mengigat secara detail apa saja yang terjadi pada hari itu. Tapi aku tidak
ingin membahasnya. Selamat untukmu sekali lagi. Semoga dia orang terakhir dalam
hidupmu. Aku sangat senang bisa mengenal dan berteman denganmu.
Tiba-tiba aku merindukanmu